PERAN HARI SUMPAH PEMUDA DALAM MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA
30 Oktober 2013
Kilas balik sejarah
Beranjak dari kutipan kalimat berikut :
Kami putera dan puteri Indonesia, bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Kami putera dan puteri bangsa indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia, berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Mari renungkan sejenak mengenai kejadian silam, pada 28 Oktober 1928 lalu. Bangkit sadar bahwa hidup bernegara, mesti tahu sejarah bangsa untuk pelajari politik bangsa ini. Kembali ke sejarah sumpah pemuda, peringatannya tak cukup hanya dengan sebuah ceremony saja. Namun harus di dukung dengan tindakan yang memunculkan semangat kebangsaan yang tinggi demi menghasilakn generasi muda yang tangguh dan berbasis pada masyarakat indonesia, bukan pada pejabat Indonesia.
Bicara tentang Pemuda, mengingatkan atas insiden 1998 tentang revolusi besar-besaran bangsa ini. Mahasiswa Indonesia sebagi kaum muda intelek mampu menggulingkan presiden dengan ketak pantasannya memimpin berdasarkan landasan yang kokoh. Di sini seharusnya kita semua mampu berkaca bahwa bangsa ini masih terpuruk, mulai dari segi politik, ekonomi, social, dan kini mulai menjalar ke budaya bangsa Indonesia.
Makna sumpah pemuda
Di sini saya lebih menitikberatkan pada peran mahasiswa indonesia, dengan tridharma pergurunan tingginya, dan juga perannya sebagai mahasiswa. Tridharma ini meliputi penelitian, pengabdian dan pendidikan. Kemudian peran yang di miliki mahasiswa sebagai agent of change, social control, dan iron stock.
Sumpah pemuda tahun 2013 ini, sebaiknya menjadi bahan evaluasi diri setiap mahasiswa. Sebab keterpurukan bangsa ini harus segera kita temukan solusi dengan mahasiswa sebagai kaum intelek yang juga memiliki peran dan fungsi yang penting
dalam pengawasan kinerja pemerintah dalam fungsi legislative, eksekutif dan yudikatifnya.
Generasi pemuda harus siap kerja dalam iklim keterbukaan, yaitu kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Hal ini yang sebaiknya melandasi setiap pergerakan mahasiswa sebelum berorasi memperbaiki pemerintah. Mahasiswa juga harus memiliki sikap responsif terhadap problematika sosial yang pada praktiknya akan membangun citra dan reputasi mahasiswa dalam masyarakat. Sehingga mahasiswa harus membekali diri dengan pengetahuan, soft skill, pengalaman dan menjadi teladan di dalam lingkungan masyarakat.
Banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah bagi mahasiswa demi pembenahan kemajuan bangsa ini. Tantangan demi tantang akan selalu datang, hambatan pun akan silih-berganti, serta ganjalan pun akan semakin marak nantinya. Tantangan dan hambatan ini semua harus di hadapi dan di temukan solusinya. Demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang pada UUD 1945, yang merupakan cita-cita kita semua. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan , informasi dan komunikasi global.
Maka dalam hal ini, mahasiswa di tuntut tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga harus cerdas emosional dan spiritual. Kondisi ini merupakan kondisi yang riil dan sebaiknya segera di terapkan kan pada diri mahasiswa. Sebab mahasiswa saat ini banyak yang lebih mementingkan pribadinya di bandingkan masyarakat, terbukti dengan sedikitnya mahasiswa yang mau untuk saling berbagi dalam hal organisasi untuk menambah skill-nya. Mereka lebih takut ketika mereka kelak setelah selesai kuliah tidak memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Namun hal ini sangat di sayangkan, sebab banyak pelajaran budaya bangsa yang mulai luntur. Sikap tolerensi sosial, hormat-menghormati mulai pudar, dan banyak kesenjangan sosial yang semakin meruncing di masyarakat. Akibat rendahnya rasa satu bangsa dan satu tanah air, sehingga marak terjadinya konflik antar kelompok, mulai dari tawuran pelajar, mahasiwa, hingga kelompok masyarakat.
Beberapa peran mahasiswa yang terlupakan sebagai generasi yang intelektual, generasi yang memegang peran untuk mengubah bangsa ini menuju kemajuan kehidupan yang lebih baik. Agen sosial, mengharuskan mahasiswa untuk peka terhadap problem sosial, untuk dapat didiskusikan mencari solusi yang nantinya dapat di rekomendasikan dalam sebuah kebijakan atau pun menjadi pertimbangan dalam masyarakat.
Selanjutnya, mahasiswa sebagai iron stock maksudnya mahasiswa sebagai generasi penerus yang selalu ada, sehingga generasi yang dapat di bentuk agar mampu memimpin bangsa ini dengan pemikiran segar yang mampu menyesuaikan dengan zaman.
Makna sumpah pemuda, tak cukup hanya di rayakan hari ini saja, namun harus mampu di aplikasikan dalam semangat dan idealisme pemuda yang berorientasi kenegaraan dan kebangsaan yang nantinya mampu bermisi keumatan dan kebangsaan. Pemuda saat ini harus memiliki jiwa nasionalisme sehingga tidak mudah terpecah-pecah dalam segi sekat pemikiran. Pemuda yang berjiwa negarawan, idealisme segar dan berkeadilan.
Berikut kilas penutup penulis :
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertumpah darah satu, tanah air tanpa penindasan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu, bangsa cinta keadilan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.
Mustofa
Mahasiswa Fisika Universitas Andalas
No comments:
Post a Comment