Surat terakhirku
Dia dan cintanya
aku dan cintaku
mencoba meramba pelan mencari sesuatu yang baru
sesuatu yang membuatku menenggelamkan bosanku
jika seperti ini, siapa yang bersalah..?
aku dan kelelahanku, atau dia yang membuatku lelah…?
aku dan kejenuhanku ataukah dia yang membuatku jenuh…?
aku sakit namun tak mampu berpaling
aku lelah namun tak sanggup tuk pergii
aku terluka namun aku mencinta.
mencinta pada dia
kekasih jiwa yang membuatku lelah
aku bukanlah embun pagi yang ada ketika kamu
membuka jendela kamar dikala pagi
aku bukanlah lagu penuntun tidurmu
dikala kamu mulai terlelap dan tidur
tapi kenyataannya apa ?
kamu liat aku sekarang ?
aku bagaikan daun yang terhempas angin
tanpa tahu kemana arah dan tujuan aku pergi
biarkanlah aku pergi jauh
menaggalkan semua kenangan tentang dirimu
walaupun aku tidak akan lupa
akan dirimu dan semua kenangan yang kau berikan
aku harap kemana sajaku pergi
kamu akan ingat slalu ingat
setiap kata, ucapan dan tentang semuanya
yang pernah keluar dari bibirku
dan semua hal dan sikapku terhadapmu
semata-mata karena aku sangat sayang dan cinta kepadamu .
kamu akan ingat slalu ingat
setiap kata, ucapan dan tentang semuanya
yang pernah keluar dari bibirku
dan semua hal dan sikapku terhadapmu
semata-mata karena aku sangat sayang dan cinta kepadamu .
ketika cinta itu tumbuh dibenakku
dan ketika kata hati mulai mengema
kurasakan betapa berartinya dirimu
kau adalah kehidupanku
detik-detik terus berlalu
kau berubah menjadi apa yang tak kuharapkan
betapa sakit hatiku
kukira kau tulus menyayangiku
ternyata
kau hanya menjadikanku sebagai seseorang
yang mengisi hari-harimu
aku tak menyangka kau begitu sadis
tapi kenapa aku sulit melupakanmu
jujur aku masih mengharapkanmu
saat kau mengatakan ingin kembali
aku tak ingin kembali
biarlah masa lalu pergi
lupakan aku untuk selamanya
jangan kau kejar cinta yang telah hilang
darimu karena cinta yang kau sakiti itu telah pergi
dan ketika kata hati mulai mengema
kurasakan betapa berartinya dirimu
kau adalah kehidupanku
detik-detik terus berlalu
kau berubah menjadi apa yang tak kuharapkan
betapa sakit hatiku
kukira kau tulus menyayangiku
ternyata
kau hanya menjadikanku sebagai seseorang
yang mengisi hari-harimu
aku tak menyangka kau begitu sadis
tapi kenapa aku sulit melupakanmu
jujur aku masih mengharapkanmu
saat kau mengatakan ingin kembali
aku tak ingin kembali
biarlah masa lalu pergi
lupakan aku untuk selamanya
jangan kau kejar cinta yang telah hilang
darimu karena cinta yang kau sakiti itu telah pergi
pergi meninggalkan cinta
yang lama membangun kehidupannya sendiri
yang lama membangun kehidupannya sendiri
detik-detik waktu menemani
membangun kecemasan dalam jiwa
bertahan diantara harapan
darah ini telah membeku terjamah oleh dinginnya hatimu
diam tenang seperti air
dalam wadah getar hati ini tak menggangu
buatmu bisu
hatimu terlalu bertahta
titah aku mu terlalu mengusai
getarkan wadah itu
memuntahkan air
hingga tercurah membasuh cemas atas hati
membangun kecemasan dalam jiwa
bertahan diantara harapan
darah ini telah membeku terjamah oleh dinginnya hatimu
diam tenang seperti air
dalam wadah getar hati ini tak menggangu
buatmu bisu
hatimu terlalu bertahta
titah aku mu terlalu mengusai
getarkan wadah itu
memuntahkan air
hingga tercurah membasuh cemas atas hati
kini, hatiku tergores
kesedihan ketika terucap salam perpisahan
walau air mataku tak berlinang
bukan berarti suatu kerelaan
saat-saat langkah terayun
jarak kita-pun semakin membentang
akankah semuanya jadi terkenang
atau hanyut terbawa gelombang
bahkan mungkin terkubur oleh waktu dan keadaan
kesedihan ketika terucap salam perpisahan
walau air mataku tak berlinang
bukan berarti suatu kerelaan
saat-saat langkah terayun
jarak kita-pun semakin membentang
akankah semuanya jadi terkenang
atau hanyut terbawa gelombang
bahkan mungkin terkubur oleh waktu dan keadaan
sahabat,
dalam hatiku ini akan tetap membekas
suatu kenangan aku terkulai lemas
dalam kehampaan karena akhirnya aku berjalan lagi.
dalam hatiku ini akan tetap membekas
suatu kenangan aku terkulai lemas
dalam kehampaan karena akhirnya aku berjalan lagi.
No comments:
Post a Comment